Feeds:
Pos
Komentar

*Fenomena Anak sebagai Pelaku Kekerasan Seksual*

Memprihatinkan sekali kasus perkosaan yang dilakukan oleh 5 orang anak yang masih berusia 11 tahun pada anak yang baru berusia 5 dan 7 tahun di Purbalingga sebagaimana diberitakan oleh Radar Jogja (Rabu 2 Februari 2011).

Sesunggunya fenomena tersebut bukanlah yang pertamakali terjadi, sejak tahun 2002 Rifka Annisa telah mendampingi korban perkosaan dimana pelakunya masih berusia anak, yaitu dibawah 18 tahun. Sejak tahun 2000 hingga 2010 terdapat 204 kasus pelecehan seksual dengan 27 (13%) pelakunya berusia anak, kemudian kasus perkosaan berjumlah 370 kasus dengan 34 (9,1%) anak sebagai pelaku perkosan. Kategori usia anak paling banyak menjadi pelaku kekerasan seksual adalah anak usia 15 – 18 tahun kemudian usia 12-15 tahun dan 5-12 tahun, sebagaimana terlihat dalam table disamping. Kencenderungan munculnya anak sebagai pelaku kekerasan seksual baik perlecehan seksual maupun perkosaan, telah ada sejak tahun 2000 hingga 2010 dengan jumlah kemunculannya secara fluktuatif. Jumlah tertinggi terdapat pada tahun 2004 dengan jumlah 11 anak sebagai pelaku, kemudian tahun 2007 dan 2009 dengan jumlah masing-masing 10 dan 9 kasus anak sebagai pelaku.

Masih berdasarkan kasus di Rifka Annisa anak sebagai pelaku kekerasan seksual termuda berusia 5 tahun sebanyak 2 kasus, 6 tahun 2 kasus, 7 dan 8 tahun masing-masing 1 kasus, 9 tahun 2 kasus, 10 tahun 1 kasus dan 11 tahun berjumlah 2 kasus. Munculnya anak-anak yang masih belia sebagai pelaku kekerasan seksual ini biasanya karena adanya pelaku yang lebih dewasa. Anak-anak tersebut kebanyakan hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh anak-anak yang lebih tua darinya. Terdapat kecenderungan bahwa anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual, tidaklah sendirian dalam melakukan aksinya.

Demikianpula dengan korbannya, ada kalanya anak-anak pelaku kekerasan seksual tersebut melakukan tindakannya tidak hanya pada seorang anak saja. Kebanyak anak pelaku kekerasan seksual memiliki hubungan kedekatan dengan kroban, seperti teman, tetangga maupun saudara. *Tanggungjawab Orang Tua * Adanya kecenderungan anak sebagai pelaku kekerasan seksual sebagaimana diatas tentu sangat memprihatinkan, bahkan anak-anak dibawah usia 12 tahun dan ada yang masih berusia 5 tahun telah ikut-ikutan menjadi pelaku kekerasan seksual. Kondisi ini mengindikasikan kurangnya pendidikan seks bagi anak, sehingga mereka tidak bisa membedakan mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan terkait dengan organ reproduksi mereka.

Sebagai contoh adalah anak yang berusia 5 tahun hingga 11 tahun yang turut melakukan kekerasan seksual pada anak usia 4 tahun, tidak tahu bahwa tindakan yang dilakukannya tersebut adalah suatu hal yang dilarang.

Berdasarkan pengalaman kasus yang didampingi Rifka Annisa, munculnya anak-anak sebagai pelaku kekerasan seksual tersebut karena pengaruh media, misalnya karena pernah menonton VCD porno, pernah menyaksikan orang yang melakukan hubungan seksual, baik itu yang dilakukan oleh orang tuanya, atau temannya yang lebih dewasa, melakukannya karena ikut-ikutan atau dipaksa oleh anak yang lebih besar darinya, dll.

Kebanyakan anak yang menjadi pelaku maupun korban kekerasan seksual berasal dari keluarga yang abai terhadap pendidikan dan pengasuhan anak. Beberapa diantaranya berasal dari keluarga yang kurang harmonis, terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), anak yang kehilangan fungsi pengasuhan orang tua, sehingga anak tidak memiliki figure ayah maupun orang tua yang diidealkan. Dalam konteks hak anak sesungguhnya anak pelaku kekerasan seksual tersebut adalah juga korban. Orang tua bertanggungjawab terhadap apa yang terjadi pada anak. Demikian pula dengan lingkungan dan orang yang lebih dewasa bertanggungjawab terhadap terciptanya situasi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya anak. Namun lingkungan juga abai terdahap perkembangan anak, masyarakat cenderung permisif terhadap apa yang terjadi pada anak bahkan menyuguhkan anak game-game maupun tontotanan yang dapat merusak perkembangan anak dengan motiv keuntungan ekonomi. Orang dewasa tidak memberikan contoh perilaku yang baik pada anak, bahkan mereka tidak sadar kalau perilakunya diikuti oleh anak. Tanggungjawab pendidikan orang tua seolah-olah telah selesai dengan menyerahkan pendidikan anak pada sekolah. Demikian pula dengan ayah, seringkali tidak terlibat penuh dalam pendidikan anak, mencukupkannya sebagai tanggungjawab ibu, sehingga jika terjadi sesuatu pada anak, ibu yang seringkali disalahkan.

*Peran Orang Dewasa* Agar anak terhindar dari menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual, anak perlu mendapatkan pendidikan tentang seksualitas sejak dini. Anak perlu dikenalkan organ-organ seksualnya, bagaimana memerlakukannya, mengenali fungsinya, mengenali sentuhan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mengajarkan anak untuk teriak jika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, mengajarkan anak tentang tanggungjawab dan konsekuensi dari tindakannya dll.

Membiasakan anak untuk membicarakan pada orang tua tentang apa yang telah dilakukannya. Hindari untuk memarahi anak jika menceritakan hal-hal yang tidak baik, jangan sampai anak menjadi kapok dan takut menceritakan hal-hal buruk yang dialaminya, nasehati dan beri pengertian pada anak. Orang tua perlu memperhatikan siapa saja teman anak-anaknya, ajak anak untuk mengenalkan teman-temannya dan apa yang biasa dilakukan.

Perhatikan game yang sering dimainkan anak, karena saat ini banyak game yang secara gambling menampilkan adegan seksual. Perhatikan bacaan anak, baca dulu sebelum membeli. Perhatikan computer, internet maupun sms anak. Kecanggihan teknologi mempermudah anak-anak mengakses pornografi. Anak-anak sekarang memiliki banyak bahasa komunikasi yang tidak mudah dimengerti oleh orang dewasa, seperti sms terbalik, atau sms sandi yang ternyata berisi komunikasi tentang seksualitas. Buat kesepakatan dengan anak tentang jam belajar, tontonan atau acara TV apa saja yang boleh dilihat. Buat kesepakatan kapan waktu yang tepat untuk bermain game, menonton dan belajar, serta konsekuensinya bagi anak jika melanggar.

Sesekali damping anak ketika bermain game, menonton TV maupun belajar. Tanamkan kepribadian yang baik dan ke-imanan pada diri anak sejak dini. Biasakan anak untuk menghadirkan Tuhannya dalam setiap aktifitas yang dilakukan. Mengajarkan anak untuk menjaga nama baik sekolah atau keluarga seringkali tidaklah manjur. Buat anak mengerti bahwa konsekuensi tindakannya akan kembali pada diri anak itu sendiri, bukan pada keluarga atau sekolah. Karena control yang paling bagus bagi anak adalah dari dalam diri anak itu sendiri. Jagalah perilaku orang tua yang baik, karena perilaku orang tua akan ditiru oleh anak. Berikan contoh perilaku yang baik bagi anak dalam keluarga.

*Anak : Tanggungjawab Publik* Negara dan masyarakat bertanggungjawab terhadap terjadinya kekerasan seksual pada anak maupun oleh anak. – Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi perlu diberikan di sekolah-sekolah agar anak tidak terjerumus pada perlaku seksual beresiko. – Pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk membatasi peredaran pornografi agar tidak dikonsumsi anak atau tidak menjadikan anak sebagai subyek pornografi. – Pembatasan tayangan-tayangan yang kurang mendidik bagi anak, memicu konsumerisme dan perilaku kekerasan maupun perilaku seksual yang beresiko pada anak. – Penyediaan dan Penyelenggaraan komunikasi informasi dan edukasi bagi anak tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi yang efektif dan aksesible bagi anak – Perlunya pendidikan parenting bagi orang tua agar anak terhindar dari menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual. – Perlunya negara untuk ambil bagian dalam pemenuhan hak pengasuhan anak bagi anak-anak yang kehilangan peran dan fungsi pengasuhan orang tua. – Penegakan dan perlindungan hukum bagi anak yang bermaslah dengan hukum, sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi anak namun di sisi lain anak tidak kehilangan hak-haknya.

Yogyakarta, 3 Februari 2011 *Muhammad Saeroni, S.Ag* Manager Divisi Media dan Kehumasan Rifka Annisa Yogyakarta


Senin, 26/04/2010 11:29 WIB

Hakim Nasir Disidang MA karena Beristri Tiga

Andi Saputra – detikNews

Jakarta – Bak lagu ‘Madu Tiga’ yang dinyanyikan ulang oleh Ahmad Dhani yang mengawini 3 perempuan sekaligus, M Nasir Qamarullah, hakim Pengadilan Agama Pare-Pare, Sulawesi Selatan disidang oleh Majelis Kehormatan Hakim karena dinilai melanggar kode etik. Selain itu, Nasir juga melakukan pungli atas mahasiswanya serta memalsu stempel kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI).

“Saya menikah siri, daripada zina. Selain itu, saya sudah mengajukan permohonan ke Ketua Pengadilan untuk poligami tapi tak dikabulkan,” bela Nasir dalam Sidang Majelis Kehormatan Hakim (MKH) di gedung Mahkamah Agung (MA), Jalan Medan Merdeka Utara, Senin, (26/4/2010).

Dari istri pertamanya, Masrurah dianugrahi 5 anak yang telah berhasil seperti menjadi dokter, jaksa dan lainya. Kemudian bercerai pada 1999 dan kawin lagi pada 2000 dengan Suliana secara siri. Tapi karena satu dua hal, dia menikah untuk ketiga kalinya dengan Winda secara siri.

Meski telah cerai dengan istri pertama, menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) MKH, dia kembali berkumpul layaknya suami istri dengan istri pertamanya. “Toh kawin siri sudah sah oleh agama. Sekarang saya jika diberhentikan, mohon di pertimbangkan anak dari istri kedua, yaitu anak ke-2 baru kelas 2 SD, yang ketiga baru umur 2 tahun,” mohonnya.

Selain itu, dia diduga kuat melakukan pungli atas mahasiswanya sebesar Rp 500ribu untuk beberapa semester di kampus UMI Pare-Pare dengan total sekita Rp 60 juta. Selain itu, dia juga telah memalsu stempel kampus UMI. Saat ini, sidang terus berlangsung.

Sidang yang dipimpin hakim Imron Anwari didampingi oleh 6 anggota majelis lainnya, 4 dari Komisi Yudisal. Kepada hakim nakal itu, hakim Nasir terancam dipecat.

“Padahal Anda kan tidak punya wewenang dan struktur di kampus UMI. Kok menarik pungli” cecar ketua sidang MKH, Imron. (asp/anw)


Perceraian Bikin Wajah Terlihat Lebih Tua

VIVAnews

By Finalia Kodrati, Mutia NugraheniSenin, 5 April
pasangan putus

VIVAnews – Perceraian memang menyita pikiran dan membuat lelah baik psikis maupun fisik. Efeknya secara psikis pasti menyedihkan, dan pada fisik juga kurang baik. Hal ini berdasarkan dari penelitian yang dilakukan tim dari Case Western Reserve University di Cleveland, Amerika Serikat.

Hal itu diketahui dengan melihat 186 pasang kembar identik dan menemukan bukti sejauh mana faktor gaya hidup, bukan hanya genetika, juga mempengaruhi penuaan. Mereka menemukan pasangan bercerai rata-rata terlihat dua tahun lebih tua dari yang lajang, menikah atau saudaranya yang sudah janda atau duda, ketika dinilai oleh sebuah panel independen.

Stres adalah salah satu faktor yang paling umum, yang membuat anak kembar terlihat lebih tua cepat daripada saudara-saudara mereka. Hal ity berdasarkan temuan, yang diterbitkan dalam jurnal dari American Society of Plastic Surgeons, seperti VIVAnews kutip dari Telegraph, Minggu 4 April 2010.

Penelitian ini juga menemukan bahwa bagi wanita usia tertentu, meningkatnya berat badan bisa membuat mereka untuk terlihat lebih muda. Sedangkan, pada saudara kembar di bawah 40, dianggap terlihat lebih tua, jika saudaranya terlihat lebih langsing.

Menurut kepala peneliti, Dr Bahman Guyuron, wanita yang kembar identik “secara genetik diprogram untuk usia yang sama persis.” Dia merekomendasikan bahwa wanita yang ingin tetap tampak muda lagi harus menghindari stres dan kecemasan, untuk menipu jam biologis mereka.

“Faktor genetik seseorang awalnya mungkin mendikte bagaimana mereka usia. Tapi ada faktor lain seperti gaya hidup yang juga mempengaruhinya,” kata dr. Guyuron

Penelitian juga menemukan bahwa penggunaan obat antidepresan dapat menyebabkan seseorang terlihat “secara signifikan lebih tua. Mereka memperingatkan bahwa obat tersebut dapat mengendurkan otot wajah sehingga keriput terlihat jelas.

Sinar matahari, merokok dan minum alkohol juga membuat seseorang menjadi tampak lebih tua. Untuk mengatasi hal itu, terapi hormon pengganti (hormone replacement therapy), menurut studi bisa menjadi salah satu cara. Dr. Guyuron mengatakan bahwa temuan juga mendukung gagasan bahwa suntikan dermal “filler” bisa membantu mengembalikan volume kulit yang hilang dan meremajakan wajah.


Judul: Undangan Talkshow Laki-Laki Baru

Yth,
teman-teman

Hadiri dan berikan masukan anda dalam diskusi tentang gerakan Laki-laki Baru. Laki-laki Baru adalah sebuah komunitas yg menggagas perlunya keterlibatan laki-laki dalam menghapus kekerasan berbasis gender dan sebuah gerakan yang sesungguhnya lahir dari rahim gerakan perempuan. Untuk itu diharapkan gerakan laki-laki baru mampu bersinergi dengan gerakan perempuan dalam menegakan keadilan dan kesetaraan.

Diskusi dilaksanakan pada:

Hari dan tanggal: Rabu, 10 Maret 2010

Pukul: http://www.facebook.com/l/0562b;08.30-12.00 WIB

Tempat: UKRIDA Kampus II Lantai 7
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510

Pembicara:
Kristi Poerwandari
Nur Iman Subono
Mayong Suryo Laksono

Pemandu:
Nur Hasyim

Ajak juga teman-teman anda dalam diskusi tersebut. Gratis untuk umum.


Minggu, 26 November 2006 @ 13:17:27
ANCAM PAKAI PISAU, GURU CABULI MURID DI KELAS

*** PADA saat para guru memeringati Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November, perilaku Eddy Murjono sungguh tak pantas disebut sebagai pendidik. Guru di SMP Budi Waluyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu kerap kali mencabuli murid-murid perempuan di sekolah tersebut.

Bagi siswa yang tak mau melayani nafsu bejat si guru, mereka bakal diancam. Kejadian itu menimpa seorang siswa, sebut saja Mawar. Dia diancam dengan pisau dapur agar tidak melaporkan perilaku bejat Eddy yang meraba-raba (maaf) payudaranya itu.

“Ada yang mengaku dilecehkan sejak kelas 7 (kelas 1 SMP). Sampai sekarang siswa itu duduk di kelas 8, perbuatan itu masih berlangsung. Ada juga siswi yang masih diperlakukan tak senonoh meski anaknya sudah berjilbab,” tutur Widianis Indranata, aktivis Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik). Dia yang mendampingi korban saat melaporkan kasus itu ke Mapolrestro Jakarta Selatan, Sabtu (25/11).

Pencabulan oleh Eddy Murjono, guru ekonomi dan komputer kelas 7 SMP Budi Waluyo, diduga telah dilakukan setahun lebih. Sejumlah siswi di SMP bagi anak berkebutuhan khusus itu mengaku menjadi korban. Namun, sebagian besar orangtua mereka tidak berani melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang.

Mawar saja mengaku telah dua kali diperlakukan tidak senonoh. Awalnya, pada 10 September 2006, ketika tengah mengikuti pelajaran ekonomi, Mawar duduk di bangku belakang ruang kelas. Kelas itu hanya berisi empat siswi dan tiga siswa. Saat itu Eddy berdiri di belakang Mawar, mulai membuka kancing baju, lalu memasukkan tangannya ke dalam baju siswi itu dan memegang payudaranya.

Sebelum kejadian itu, Arno (bukan nama sebenarnya), ketua kelas, meminta izin ke kamar mandi. Rupanya Arno melihat kejadian tersebut dari jendela kelas. Arno termasuk siswa yang memiliki kemampuan sosialisasi cukup sehingga dijadikan ketua kelas.

Kejadian serupa berulang saat pelajaran sedang berlangsung di laboratorium komputer. Eddy sebagai guru komputer menyuruh dua siswa putra untuk memanggil siswa lainnya yang tengah tertidur di ruang kelas. Ruang kelas itu terletak di lantai II, sedangkan ruang laboratorium di lantai I.

Saat itu murid yang masih berada di ruang laboratorium adalah empat siswi yaitu Mawar, Melati, Anggrek, dan Bunga –semua bukan nama sebenarnya. Namun, Mawar mengaku tak ingat lagi kapan tanggal persisnya. Karena curiga, dua siswa putra itu kemudian kembali ke laboratorium dan mengintip dari jendela.

Dua siswa itu melihat Eddy hendak memegang (maaf) payudara Melati. Namun, Melati menepis keras tangan Eddy sembari berkata: “Ngapain bapak pegang-pegang?” Eddy pun berbalik menuju Mawar dan kejadian serupa terulang kembali. Eddy mulai membuka kancing kemeja Mawar dan memasukkan tangannya untuk memegang payudara Mawar.

Usai pelajaran komputer, semua murid kembali ke ruang kelas di lantai II kecuali Melati yang diminta mematikan seluruh komputer. Selanjutnya Eddy menyuruh Melati agar memanggil Mawar yang tengah menunggu di luar untuk masuk kembali ke laboratorium komputer itu.

Saat Melati pergi ke ruang kelas, Mawar masuk kembali ke laboratorium itu. Saat Mawar masuk, Eddy langsung mencekal leher Mawar dari belakang sembari memegang pisau dan mengancamnya. “Pak Eddy minta saya tidak cerita sama guru lain, teman lain, atau ke orangtua. Kalau tidak, dia akan membunuh saya. Saya bilang iya saja, habis takut sih,” tutur Mawar polos.

Kedua korban itu sebenarnya sudah mengadukan kejadian itu kepada guru agama mereka. Guru agama itu mencatat semua laporan itu dan berpesan agar jika kejadian tersebut terulang kembali mereka harus segera berteriak. Rupanya kejadian yang menimpa dua siswi itu menjadi perbincangan di antara siswa-siswi lainnya dan para orangtua yang setiap hari menunggu di sekolah. Kedua siswi itu pun melaporkan kejadian yang menimpa mereka kepada guru BP (bimbingan dan penyuluhan). Sama seperti guru agama itu, guru BP pun mencatat semua laporan pengaduan mereka.

Datangi sekolah
Sejumlah orangtua siswa kemudian mendatangi sekolah tersebut di Jalan Cimanggiri III/15, Blok Q4, Kebayoran Baru, Sabtu (25/11). Mereka mendesak pihak Yayasan memecat Eddy Murjono yang telah melakukan pelecehan seksual kepada sejumlah siswi.

Menurut pengakuan beberapa siswa, pelecehan itu dilakukan Eddy nyaris setiap hari. Ironisnya, korban adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan daya tangkap dan anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata atau disebut juga ABK (anak berkebutuhan khusus).

Pertemuan pihak yayasan dengan orangtua dilakukan kira-kira pukul 12.00, menunggu usainya proses belajar mengajar. Kedatangan orangtua siswa itu didampingi Deputi Menteri Bidang Perlindungan Perempuan pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Irma Alamsyah Jayaputra.

Irma membawa surat dari Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang intinya meminta agar pelaku diberi sanksi hukum seberat-beratnya karena telah mencederai hak-hak anak di sekolah itu. Surat itu ditandatangani Meutia Hatta pada 25 November 2006. Namun, Irma yang menemui perwakilan Yayasan Budi Waluyo, tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Pihak yayasan hanya bersedia bertemu dengan orangtua korban.

Pihak yayasan menutup diri dari wartawan yang bermaksud mengkonfirmasi kasus tersebut. Bahkan wartawan dihalangi untuk mengikuti pertemuan yayasan dan perwakilan orangtua itu. Warta Kota yang menanyakan keberadaan Eddy Murjono kepada beberapa guru setempat, hanya mendapat jawaban: “Wah, saya tidak tahu Mas.”

Padahal sepeda motor Yamaha Jupiter B 6273 PCY yang biasa dipakai Eddy masih terparkir di dalam lingkungan sekolah itu. Petugas keamanan sekolah juga mengaku tidak tahu kalau Eddy keluar dari lingkungan sekolah. “Wah saya nggak lihat tadi. Keluar apa nggak, saya juga nggak tahu,” tutur petugas satpam itu.

Menurut Cindy (42), salah satu orangtua korban, Sabtu (25/11) itu adalah kesepakatan deadline bagi pihak yayasan untuk menindak pelaku. Namun, hingga kemarin tidak ada sanksi apa pun yang dijatuhkan yayasan kepada pelaku. “Mereka bilang, itu urusan pribadi, bukan urusan yayasan. Pihak yayasan hanya akan bertindak jika ada bukti dan kekuatan hukum tetap bahwa pelaku bersalah. Padahal sebelumnya mereka berjanji akan mengambil tindakan hari ini,” ungkap Cindy.

Cindy menuturkan, dua minggu sebelumnya, dia mendatangi Kepala SMP Budi Waluyo, Sudiyono, dan mendesak agar pelaku dipecat. Sudiyono menolak dan meminta orangtua menunggu hingga Januari 2007. “Saya tolak, bagaimana nanti keselamatan anak saya dan siswi lainnya. Akhirnya dicapai kesepakatan pihak sekolah meminta waktu dua minggu untuk menunggu keputusan dari rapat yayasan. Tapi, sampai waktunya sekarang, belum juga ada keputusan itu,” tandasnya.

Karena pertemuan dengan pihak yayasan menemui jalan buntu, orangtua siswa pun mengadukan kasus pelecehan itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Jakarta Selatan, kemarin. Laporan pengaduan itu bernomor: 2304/K/XI/2006/RES, JAKSEL, yang ditandatangani Kepala SPK III, Iptu R Sartoto.

Karena kekhawatiran adanya perlakuan serupa yang akan menimpa putra-putri kesayangannya, beberapa orangtua siswa mempertimbangkan untuk memindahkan mereka ke sekolah lain. “Kemungkinan besar begitu. Siapa yang bisa menjamin anak-anak akan aman berada di sana?” tanya Cindy. (wk/kcm/04)

Rubrik ini telah dikunjungi sebanyak 698 kali
BERITA
Minggu, 16 Nov 2008
63 PENDERITA HIV/AIDS di BOGOR MENINGGAL
Sabtu, 15 Nov 2008
ABORSI MENGGUNAKAN JAMU KIAN MENINGKAT
Jumat, 14 Nov 2008
750 BALITA di DEPOK KURANG GIZI
Jumat, 14 Nov 2008
PENGETAHUAN SISWA REMAJA TENTANG REPRODUKSI RENDAH
Jumat, 14 Nov 2008
BAKTERI MULUT TERNYATA BISA MEMBUAT MAKANAN LEBIH ENAK
POLLING
Untuk menjaga kesehatan ibu, pertumbuhan dan perkembangan anak, jarak kelahiran anak pertama dan kedua sebaiknya:
satu tahun
dua tahun
tiga tahun
empat tahun
lima tahun

http://www.pktpa.org/index.php?option=com_content&view=article&id=50:laki-laki-sebagai-mitra-penghapusan-kekerasan-&catid=38:perempuan

Home

Laki-laki sebagai Mitra Penghapusan Kekerasan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Webmaster
Kamis, 16 April 2009 16:24
Laki-laki menghapus kekerasan terhadap perempuan? Tidak mungkin, mereka adalah bagian dari persoalan. Bagaimana persoalan menjadi solusi? Itu kira-kira jawaban kalangan feminis radikal yang umumnya memiliki keyakinan laki-laki adalah pelaku utama kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan (KTP) berkaitan dengan soal ketidakadilan jender. Masalahnya, hal ini sering disalahartikan sebagai masalah laki-laki versus perempuan. Padahal, ada empat prinsip dasar keadilan jender, yakni ketidakadilan itu (a) bukan “pertempuran” antara laki-laki dan perempuan; (b) bukan soal ide atau gerakan “anti-laki-laki”; (c) baik laki-laki maupun perempuan sama-sama menderita dan jadi korban meskipun perempuan lebih menderita; dan (d) karena itu tidak ada jalan lain, laki-laki dan perempuan harus bergandengan tangan menghapuskan KTP.
Rasionalisasi kemitraan

Laki-laki ada di singgasana kekuasaan dalam struktur masyarakat dan kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu perwujudan kekuasaannya. Kaufman (1999) menyebut 3P yang berperan, yaitu patriarkhi: seluruh ide, relasi, dan stratitifikasi dalam masyarakat diatur dalam aturan laki-laki. Karena itu, laki-laki memperoleh privilese atau hak istimewa yang didapat hanya karena semata-mata jenis kelaminnya laki-laki dan masyarakat menerimanya sebagai sesuatu yang seharusnya. Karena itu, dalam banyak hal situasi itu melahirkan sikap permisif.

Jika demikian, alasan apa yang bisa mendorong laki-laki mau menjadi mitra perempuan dalam menghentikan KTP? Pada titik ini basis sosial kemitraan bisa diungkapkan.

Secara alamiah, laki-laki bukanlah pelaku kekerasan. Menurut riset psikologi, hampir 90 persen laki-laki pelaku kekerasan datang dari keluarga atau lingkungan yang biasa menggunakan kekerasan sebagai cara menyelesaikan persoalannya. Sebetulnya, laki-laki pada umumnya tidak setuju dengan kekerasan, tetapi mereka merupakan kelompok mayoritas yang tidak bersuara dan menganggap KTP sebagai norma yang sudah diterima dalam masyarakat akibat 3P di atas.

Ternyata ada paradoks dari kekuasaan laki-laki ini. Di satu sisi, kekerasan itu hanya memperlihatkan rasa tidak percaya diri, lemah, dan selalu khawatir kekuasaannya sebagai laki-laki akan hilang atau tidak dipatuhi lagi. Maka, dia harus terus mengujinya dengan melakukan kekerasan. Di sisi lain, banyak laki-laki terpaksa masuk dalam lingkungan kekerasan semata-mata karena tidak ingin disebut bukan bagian dari manhood (keutamaan laki-laki).

Sampai di sini kita seharusnya sadar hanya segelintir laki-laki yang menjadi pelaku dan kebanyakan tidak melakukan. Pada dasarnya mereka sendiri tidak menyetujui, menentang, dan merasa jadi korban 3P. Ingat, meskipun mereka tidak berbuat kekerasan, mereka ikut bertanggung jawab karena membiarkan KTP di sekelilingnya.

Nilai yang dipromosikan

Ada banyak nilai yang dapat dijadikan alternatif dari nilai-nilai maskulin yang sangat bias jender ini. Michael Flood (1998) menyebutkan ada tiga nilai yang bisa digunakan laki-laki untuk menjadi bagian, baik individu atau gerakan, dalam menghentikan KTP.

Pertama, male-positive, yaitu keyakinan mereka bisa berubah dan memberi dukungan setiap upaya laki-laki untuk melakukan perubahan. Nilai-nilai maskulin seperti kekuatan, keteguhan, dan ketegasan yang diyakini selama ini justru bisa digunakan untuk perubahan dengan mempromosikan nilai maskulin lain, seperti rasa respek dan menghargai kesetaraan.

Kedua, profeminis, yakni laki-laki yang memiliki tekad selalu melawan penindasan terhadap perempuan, seksisme, dan ketidakadilan jender. Menjadi profeminis adalah berupaya mengembangkan bentuk maskulinitas non-opresif dan relasi dengan perempuan yang nonseksis.

Ketiga, marginalized-affirmative. Laki-laki selalu bertekad menentang segala bentuk prasangka terhadap kalangan marjinal atau minoritas seperti homofobia. Mereka ikut mempromosikan relasi jender yang setara dan adil tanpa membedakan apakah mereka marjinal atau bukan.

Jika apa yang diungkapkan itu dapat menjadi pemahaman dan nilai-nilai dalam diri laki-laki, maka mengajak laki-laki sebagai mitra dalam penghapusan KTP sebagaimana ajakan Syafiq bukanlah mission impossible. Bagaimana kawan laki-laki, mau bergabung? Bagaimana juga rekan-rekan perempuan, mau menerima? Bersama kita menghentikan kekerasan terhadap perempuan sekarang juga.


“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)